SILAHKAN TINGGALKAN PESAN DISINI

Keluarga Keraton Cirebon di Nikahi Bule

Diposting oleh paguyubancirex Rabu, 18 November 2009

Selalu ada cerita menarik bila warga asing berhasil mempersunting gadis pribumi. Kali ini seorang bule Belanda menikahi keponakan Sultan Kacirebonan, Raden Ajeng Reza Susana Wegi (29). Akad nikah dilangsungkan sederhana, Senin (19/10), dan resepsi direncanakan Mei 2010.

M RONA ANGGIE, Cirebon
PENGAMAT kebudayaan dari Keraton Kacirebonan, Ahmad merasa menyesal tak sempat mengontak media massa saat akad nikah digelar pekan lalu. Beberapa hari setelahnya, baru ia menghubungi Radar Cirebon tentang momen bahagia itu. Di teras depan Keraton Kacirebonan, Minggu (25/10), Sultan Kacirebonan Abdul Gani Natadiningrat SE dengan antusias menerangkan cerita pernikahan tersebut.
Sultan menyebutkan, pernikahan dengan warga asing adalah kali pertama dijalani seorang anggota keluarga besar Keraton Kacirebonan. Raden Ajeng Reza Susana Wegi adalah putri kakak sulung sultan, Ratu Raja Putri Nur Huyedat Yeni. Sementara sang bule adalah peneliti sejarah kebudayaan keraton di nusantara, Antonius Adrianus Lutter.
Sultan menjelaskan, sebelum menikahi keponakannya, terlebih dulu Antonius menyatakan masuk Islam atau menjadi mualaf. Dan, setelah resmi menikah maka gelar raden pun tersemat padanya. Antonius merupakan lelaki kelahiran Utrecht, 27 Maret 1964, dan bertempat tinggal di Volkerakstaat 68 2595 VG’s Gravenhage Netherland.
“Antonius kali pertama datang ke Keraton Kacirebon pada 2007 dengan tujuan penelitian. Antonius menjelaskan pada saya bila di museum Leiden, Belanda, banyak benda budaya bersejarah asal keraton-keraton di Indonesia. Karena itu untuk memastikan penelitiannya lebih jauh, ia datang langsung ke Cirebon sebagai salahsatu daerah yang mempunyai sejarah keraton,” tuturnya.
Raden Ajeng Reza Susana Wegi, atau yang biasa disapa Susana mengungkapkan, kali pertama berjumpa dengan Antonius pada awal kunjungannya ke Keraton Kacirebonan. Saat itu ia merasa ada getaran cinta saat bertemu pandang dengan Antonius. Dan, gayung pun rupanya bersambut. Namun, karena mesti melanjutkan tugas sebagai peneliti, selepas kedatangan di 2007 itu Antonius melanjutkan ekspedisi ke beberapa negara lain.
Walau hubungan mereka lintas benua dan dipisahkan ribuan mil lautan luas, Susana membeberkan intensitas komunikasi disiasati dengan memanfaatkan jaringan SMS dan email. “Karena jauh-jauhan, lepas rindunya ya dengan SMS dan email saja. Habis mau ketemuan gimana,” ujarnya sambil tersenyum.
Karena mungkin sudah jodoh, lanjut Susana, pada Oktober 2009 Antonius kembali mengunjungi Indonesia untuk meneruskan penelitian. Kesempatan itu tak disia-siakan Antonius untuk menemui sang pujaan hati yang dua tahun tak bertemu. “Saat ketemu lagi, kami langsung sepakati untuk menikah. Alhamdulillah, Antonius mau masuk Islam sebagai ketentuan syarat dari keluarga besar saya,” katanya sumringah.
Pernikahan pun digelar pada Senin, 19 Oktober 2009. Susana menyebutkan, itu hanya akad nikah sederhana, sementara resepsi akan diadakan pada Mei 2010. Mengapa tak langsung menggelar resepsi? Perempuan bertubuh langsing itu mengaku sesuai dengan keinginan sang suami.
Saat ini Susana ditinggal Antonius yang kembali ke Belanda. Susana mengungkapkan hal itu karena suaminya banyak tugas yang mesti diselesaikan sebagai seorang peneliti sekaligus konsultan. Ia sendiri tak bisa langsung ikut menemani, karena mesti mempersiapkan paspor dan dokumen-dokumen kewarganegaraan, sebelum bisa diboyong tinggal di negeri Kincir Angin.
“Sebab itu Antonius menginginkan resepsi diadakan terpisah pada bulan Mei, dan selanjutnya kami akan pamit ke Belanda untuk tinggal bersama,” tuturnya.
Sultan Kacirebonan Abdul Gani Natadiningrat mengaku bahagia keponakannya bisa dinikahi peneliti sejarah asal Belanda. Lebih jauh ia berharap banyak saudara dan rekan-rekan Antonius yang akan mengunjungi keraton Kacirebonan sebagai salahsatu khasanah warisan keraton dunia.
“Ini awal yang baik sebagai promosi Keraton Kacirebonan di mata masyarakat Belanda. Kenalan Antonius kan pasti banyak, tentu referensi Keraton Kacirebonan akan dijelaskan olehnya untuk dikunjungi. Dan tentu, kunjungan wisatawan asing akan memompa denyut pariwisata keraton di Kota Cirebon,” tandasnya. (*) Sumber Berita :