SILAHKAN TINGGALKAN PESAN DISINI

Wanita asal Bangkalan Melahirkan di Atas Kereta Kahuripan

Diposting oleh paguyubancirex Rabu, 29 September 2010


Nganjuk - Perjalanan KA Kahuripan jurusan Bandung-Kediri mendadak heboh. Siti Badriyah (19) asal Bangkalan, Madura, yang sedang hamil tua mendadak sakit perut. Badriyah pun melahirkan bayi berjenis kelamin perempuan di tengah perjalanan. Informasi yang dihimpun, bayi Badriyah lahir pada pukul 13.30 WIB, (28/9/2010).

Badriyah ditolong oleh penumpang lainnya. Dia baru mendapatkan pertolongan sekitar 10 menit setelah bayinya lahir dan kereta berhenti di Stasiun Kertosono, pihak stasiun mendatangkan seorang bidan. Dia dan bayinya lantas dibawa ke RSUD Kertosono untuk mendapatkan pertolongan medis.

"Istri saya yang menolong. Ya sebisanya, karena memang istri saya bukan bidan," kata Mahmud, salah seorang penumpang KA Kahuripan saat berbincang dengan detiksurabaya.com di Stasiun Kertosono.

Menurut Petugas Kesehatan di Stasiun Kertosono, Joko Heru Prastyo Badriyah melahirkan di atas kereta dengan sejumlah penyebab. Diantaranya adanya getaran gerbong hingga menjadikan kontraksi, serta sirkulasi udara yang tak lancar, hingga mengakibatkan proses kelahiran bisa terjadi lebih cepat dari jadwal semestinya.

"Kalau usia kandungannya katanya masih 8 bulan. Tapi ya mungkin karena getaran, makanya terjadi kontraksi," ungkap Joko menjelaskan.

Kelahiran bayi perempuan Badriyah ini juga menjadi kado spesial bagi PT KA, karena bertepatan dengan hari jadinya yang ke 65 tahun. Bayi yang dilahirkan Badriyah memiliki berat badan 2,7 kilogram dan panjang 48 centimeter. Berdasarkan pemeriksaan sementara, kondisinya dinyatakan sehat.

Badriyah di sela-sela perawatan mengaku sama sekali tak menduga, akan melahirkan bayi di atas kereta api. Meski demikian dia mengaku sudah merasakan sakit pertanda akan melahirkan, saat kereta memasuki Stasiun Jogyakarta.

"Tadinya saya pikir ginjal saya yang kambuh, tidak tahunya malah mau melahirkan," tutur Badriyah didampingi suaminya, Mamat.

Wanita yang bekerja sebagai penjual sate di Subang tersebut mengatakan, dia memang sengaja pulang untuk melahirkan di kampung halamannya, karena di tanah rantau dia tidak mempunyai sanak saudara. Badriyah dan suaminya Mamat belum memikir nama untuk anak pertama mereka.

"Tidak tahu, apa namanya ada hubungannya dengan kereta apa tidak. Saya belum berpikir kesana, yang penting sekarang istri dan anak saya sehat, serta bisa pulang ke Bangkalan dengan selamat," tandas Mamat dengan wajah yang sumringah.

::: News Link :::