SILAHKAN TINGGALKAN PESAN DISINI

Menukar Nyawa dengan Rp35.000

Diposting oleh paguyubancirex Kamis, 08 Oktober 2009


CIREBON : Kadim (50) sebenarnya hanya buruh tani, namun karena musim panen sudah selesai di wilayah Cirebon, upaya mencari penghasilan lain pun dilakukan. Pilihannya menjadi penggali pasir. Namun baru dua bulan di jalani, dia tewas tertimbun pasir yang digalinya, 6 Oktober lalu.
Peristiwa menyedihkan itu disaksikan oleh Amin (17) putranya yang saat terjadi juga sedang membantu menggali pasir di blok Surapandan, Kelurahan Argasunya, Kecamatan Harjamukti Kota Cirebon.
"Bapak tetap bekerja karena harus memberi makan keluarga," kata Amin.
Mereka menggali bukit cadas untuk diambil pasirnya dan dijual kepada penampung seharga Rp70.000 per rit/truk. Hasilnya tidak semua dibawa pulang karena harus dibagi dua dengan si pemilik lahan. Mereka hanya membawa Rp35.000 per hari. Karena dalam satu hari mereka hanya mampu menggali pasir satu truk saja.
Menggali pasir dilakukan dengan alat seadanya, sebuah cangkul, dan segalon air minum isi ulang sebagai teman pengusir dahaga. Tempat galian pasir tersebut baru beroperasi selama enam bulan, dan Kadim baru bekerja selama dua bulan.Abeng(40) pemilih lahan galian mengaku sebenarnya sudah meminta Dakim untuk tidak melanjutkan pekerjaan menggali pasir.
"Tapi mereka memaksa, sebab kalu dilarang takut tidak punya uang untuk makan."
Sebauh potret kemiskinan yang masih ada di Kota Cirebon, yang masih membutuhkan perhatian walikota. Galian pasir atau galian c banyak tersebar didaerah tersebut, namun dikelola dengan cara tradisional dan tanpa memikirkan keselematan maksimal bagi pekerjanya. ( Sumber Berita )