SILAHKAN TINGGALKAN PESAN DISINI

PT KA Berniat Beli 150 Lokomotif Baru dari AS

Diposting oleh paguyubancirex Kamis, 21 Januari 2010

Jum'at 22 Januar1 2010

PT KA Berniat Beli 150 Lokomotif Baru dari AS

PT Kereta Api (KA) berniat membeli sekitar 150 buah lokomotif baru dari Amerika Serikat (AS). Lokomotif tersebut akan digunakan untuk operasional angkutan barang dan penumpang.

"Rencana pembelian akan bertahap, tahun ini PT KA akan membeli 10 lokomotif dari General Electric (GE) dan General Motor," kata Dirut PT KA Ignasius Jonan kepada wartawan di sela-sela menerima kunjungan Dubes AS Cameron R. Hume di Stasin Tugu Yogyakarta, Kamis (21/1/2010).

Menurut dia, lokomotif khusus untuk angkutan penumpang maupun barang saat ini kondisinya ada yang sudah tua sehingga perlu penambahan dan peremajaan untuk mendukung operasional. Lokomotif tersebut rencananya untuk menambah di wilayah operasi di Pulau Jawa dan Sumatera, terutama untuk mengangkut batu bara.

Di wilayah Sumatera pada 2014 ,direncanakan akan menggunakan kereta api yang mempunyai daya angkut 20 juta ton batu bara. Sedang lokomotif yang ada saat ini hanya berdaya angkut sekitar 10 juta ton.

"Kebutuhan menambah loko untuk angkutan barang memang sangat diperlukan agar operasional berjalan baik," katanya.

Menurut Ignasius pengadaan lokomotif dari AS itu dilakukan secara bertahap. Dalam waktu dekat ini akan didatangkan sebanyak 10 buah lokomotif baru dari GE dan GM Amerika Serikat. Pembelian itu langsung kepada pabriknya tanpa melalui pihak ketiga. Sedangkan sisanya sebanyak 150 buah akan dilanjutkan pada tahun berikutnya.

"Bila lokomotif yang kita beli itu sudah datang bisa langsung dioperasikan sesuai kebutuhan," katanya.

Ignasius mengatakan, kedatangan Dubes AS Cameron R. Hume ke Yogyakarta di antaranya untuk meninjau Balai Yasa milik PT KA di Daop VI Yogyakarta di Pengok. Dari tempat itu Cameron kemudian menuju PT Inka di Madiun.

Saat di Balai Yasa, Pengok, Yogyakarta mereka meninjau langsung untuk memastikan kesiapan, kelayakan perbengkelan, kapasitas lintas kereta, bengkel pembuatan dan perawatan gerbong serta standarisasi perawatan lokomotif.

"Ini semacam studi penjajakan dan pengecekan di PT KA dan pihak AS ingin melihat langsung kesiapan sebelum adanya MoU. Sebab proyek ini besar dan berlangsung cukup lama," pungkas dia.

Sumber Berita